Sahabat
Rasulullah memiliki watak yang berbeda-beda. Bila dikait-kaitkan dengan ilmu
psikologi modern, ada empat karakter utama yang mungkin dimiliki oleh manusia
yang masing-masing ada pada sahabat Rasulullah SAW ini yaitu plegmatis, korelis,
melankolis, dan sanguinis. Abu Bakar as shidiq mempunyai sifat ramah, damai, dan
tenang yang (plegmatis). Sedang Umar Bin Khattab berbeda jauh
dengan Abu Bakar as shidiq karena dia mempunyai sifat tegas, berani, keras,
cepat tanggap (korelis). Pernah suatu kala Rasulullah mengadakan rapat untuk
menindaklanjuti tawanan perang. Abu Bakar menyarankan untuk melepaskan tawanan
dan mengambil uang tebusannya. Namun dengan tegas Umar mengatakan bahwa
sebaiknya tawanan dibunuh saja agar tidak membahayakan umat nantinya. Ustman
bin Affan mempunyai sifat sempurna, rapi, rajin, kalem (melankolis). Ali bin
Abi Thalib mempunyai sifat tegang, terkenal, paling cerdas (sanguinis). Mereka
memiliki totalitas dalam bergerak , tidak mudah menyerah dan terus berjuang.
Jumat, 28 Februari 2014
Kamis, 27 Februari 2014
Pohon yang baik
“Tidakkah kamu kamu
perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti
pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu
memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya.Allah membuat perumpamaan-perumpamaan
itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat”.
(Ibrahim: 24 – 25).
Dari ayat tersebut menyatakan bahwa kalimat yang baik
seperti pohon yang baik. Orang yang baik itu seperti pohon yang akar, batang
dan buahnya baik.
1. Akar
yang kokoh : iman yang kuat
2. Batang
yang kokoh : niatnya murni karena Allah
SWT
3. Buah
yang baik : menghasilkan akhlak
yang baik
Apabila
percaya pada yang ghaib pasti konsisten perbuatan yang baik, seandainya tidak
percaya maka akan berbuat semaunya sendiri. Orang lebih mudah percaya pada yang
tampak daripada yang ghaib. Kemudian melakukan sesuatu diniatkan karena Allah
SWT , tentunya perbuatan yang baik. Jika dilihat dari buahnya(akhlak) maka
bersikap baik terhadap orang lain , tidak boleh menyakitinya. Sehingga semua
orang dapat menikmati islam.
Pohon ini akan tumbuh dan berkembang yang akan menghasilkan
buah yang baik. Tentu saja , setan tidak menginginkan pohon ini tumbuh dengan
baik maka setan akan menggoda manusia sampai hari kiamat. Setan itu musuh yang
nyata. Apabila ingin berbuat baik pasti ada yang menghalangi, itulah setan.
Godaan yang paling berat itu jika orang memiliki sifat setan ini. Banyak
orang-orang baik tidak jadi atau menyerah berbuat baik karena diganggu orang
yang memiliki sifat setan. Oleh karena itu kita berusaha untuk melawan dan
perbanyak ta’awudz apabila ada bisikan setan. Setan itu memberikan inspirasi
keburukan dan menolak kebenaran. Setan menjanjikan kemiskinan dan menimbulkan
perpecahan. Kalau malaikat itu memberikan inspirasi kebaikan dan menerima
kebenaran. Kita dianjurkan untuk mengucapkan hamdalah jika mendapat bisikan
yang baik. Semoga kita dijauhkan dari godaan setan yang terkutuk dan dapat
melakukan hal-hal yang bermanfaat.
Pentingnya Belajar Al-qur’an dan Mengajarkannya
Materi ini disampaikan pada saat Pembinaan Pekanan
pertama AM Mata’ Salman XX di semester 2, Sabtu, 8 Februari 2014.
Pematerinya Kang Abdurahman Dihya (IF’09).
Daripada Usman Bin ‘Affan r.a. telah berkata:
Rasulullah S.A.W. bersabda : “Sebaik manusia di antara kamu orang yang
mempelajari al-Quran dan mengajarnya kepada orang lain”. (Hadis Riwayat
Bukhari)
Dari Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
يُقَالُ
لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِى
الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا
“Dikatakan kepada orang yang membaca (menghafalkan)
Al Qur’an nanti: ‘Bacalah dan naiklah serta tartillah sebagaimana engkau di
dunia mentartilnya. Karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca
(hafal).” (HR. Abu Daud no. 1464 dan Tirmidzi no. 2914, di shahihkan oleh
Syaikh Al Albani).
Dari kedua hadist diatas kita
diperintah untuk mempelajari al-qur’an, seperti hukum-hukum tajwid. Walaupun
mempelajari tajwid itu sunah tapi membaca al-qur’an dengan tajwid yang benar
itu hukumnya wajib. Kita juga dianjurkan untuk mengajarkan kepada orang lain.
Kedudukan seseorang di akhirat
kelak, itu bergantung pada jumlah ayat yang kita baca(hafal). Derajat seseorang
akan terus naik sampai ayat terakhir yang dapat kita baca.Hafalan al-qur’an
juga berguna untuk shalat. Apabila membaca al-qur’an diwaktu shalat maka akan
dilipatgandakan sampai 100x. Kita dianjurkan untuk berdo’a meminta istiqamah.
Tidak bisa kita menghafalkan al-qur’an kalau kita tidak istiqamah. Kita juga
dianjurkan untuk belajar bahasa arab karena itu akan mempermudah kita
menghafal. Semoga kita dimudahkan untuk mempelajari dan mengajarkan al-qur’an.
Langganan:
Postingan (Atom)