Jumat, 28 Februari 2014

Karakter Generasi Sahabat Rasul

Sahabat Rasulullah memiliki watak yang berbeda-beda. Bila dikait-kaitkan dengan ilmu psikologi modern, ada empat karakter utama yang mungkin dimiliki oleh manusia yang masing-masing ada pada sahabat Rasulullah SAW ini yaitu plegmatis, korelis, melankolis, dan sanguinis. Abu Bakar as shidiq mempunyai sifat ramah, damai, dan tenang yang (plegmatis). Sedang Umar Bin Khattab berbeda jauh dengan Abu Bakar as shidiq karena dia mempunyai sifat tegas, berani, keras, cepat tanggap (korelis). Pernah suatu kala Rasulullah mengadakan rapat untuk menindaklanjuti tawanan perang. Abu Bakar menyarankan untuk melepaskan tawanan dan mengambil uang tebusannya. Namun dengan tegas Umar mengatakan bahwa sebaiknya tawanan dibunuh saja agar tidak membahayakan umat nantinya. Ustman bin Affan mempunyai sifat sempurna, rapi, rajin, kalem (melankolis). Ali bin Abi Thalib mempunyai sifat tegang, terkenal, paling cerdas (sanguinis). Mereka memiliki totalitas dalam bergerak , tidak mudah menyerah dan terus berjuang.

Kamis, 27 Februari 2014

Pohon yang baik

“Tidakkah kamu kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya.Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat”. (Ibrahim: 24 – 25).

          Dari ayat tersebut menyatakan bahwa kalimat yang baik seperti pohon yang baik. Orang yang baik itu seperti pohon yang akar, batang dan buahnya baik.
1.     Akar yang kokoh      : iman yang kuat
2.     Batang yang kokoh   : niatnya murni karena Allah SWT
3.     Buah yang baik         : menghasilkan akhlak yang baik

Apabila percaya pada yang ghaib pasti konsisten perbuatan yang baik, seandainya tidak percaya maka akan berbuat semaunya sendiri. Orang lebih mudah percaya pada yang tampak daripada yang ghaib. Kemudian melakukan sesuatu diniatkan karena Allah SWT , tentunya perbuatan yang baik. Jika dilihat dari buahnya(akhlak) maka bersikap baik terhadap orang lain , tidak boleh menyakitinya. Sehingga semua orang dapat menikmati islam.

          Pohon ini akan tumbuh dan berkembang yang akan menghasilkan buah yang baik. Tentu saja , setan tidak menginginkan pohon ini tumbuh dengan baik maka setan akan menggoda manusia sampai hari kiamat. Setan itu musuh yang nyata. Apabila ingin berbuat baik pasti ada yang menghalangi, itulah setan. Godaan yang paling berat itu jika orang memiliki sifat setan ini. Banyak orang-orang baik tidak jadi atau menyerah berbuat baik karena diganggu orang yang memiliki sifat setan. Oleh karena itu kita berusaha untuk melawan dan perbanyak ta’awudz apabila ada bisikan setan. Setan itu memberikan inspirasi keburukan dan menolak kebenaran. Setan menjanjikan kemiskinan dan menimbulkan perpecahan. Kalau malaikat itu memberikan inspirasi kebaikan dan menerima kebenaran. Kita dianjurkan untuk mengucapkan hamdalah jika mendapat bisikan yang baik. Semoga kita dijauhkan dari godaan setan yang terkutuk dan dapat melakukan hal-hal yang bermanfaat.

Pentingnya Belajar Al-qur’an dan Mengajarkannya


       Materi ini disampaikan pada saat Pembinaan Pekanan pertama AM Mata’ Salman XX  di semester 2, Sabtu, 8 Februari 2014. Pematerinya Kang Abdurahman Dihya (IF’09). 
Daripada Usman Bin ‘Affan r.a. telah berkata: Rasulullah S.A.W. bersabda : “Sebaik manusia di antara kamu orang yang mempelajari al-Quran dan mengajarnya kepada orang lain”. (Hadis Riwayat Bukhari)

Dari Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِى الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا
Dikatakan kepada orang yang membaca (menghafalkan) Al Qur’an nanti: ‘Bacalah dan naiklah serta tartillah sebagaimana engkau di dunia mentartilnya. Karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca (hafal).” (HR. Abu Daud no. 1464 dan Tirmidzi no. 2914, di shahihkan oleh Syaikh Al Albani).

Dari kedua hadist diatas kita diperintah untuk mempelajari al-qur’an, seperti hukum-hukum tajwid. Walaupun mempelajari tajwid itu sunah tapi membaca al-qur’an dengan tajwid yang benar itu hukumnya wajib. Kita juga dianjurkan untuk mengajarkan kepada orang lain.

Kedudukan seseorang di akhirat kelak, itu bergantung pada jumlah ayat yang kita baca(hafal). Derajat seseorang akan terus naik sampai ayat terakhir yang dapat kita baca.Hafalan al-qur’an juga berguna untuk shalat. Apabila membaca al-qur’an diwaktu shalat maka akan dilipatgandakan sampai 100x. Kita dianjurkan untuk berdo’a meminta istiqamah. Tidak bisa kita menghafalkan al-qur’an kalau kita tidak istiqamah. Kita juga dianjurkan untuk belajar bahasa arab karena itu akan mempermudah kita menghafal. Semoga kita dimudahkan untuk mempelajari dan mengajarkan al-qur’an.